Thursday, 22 May 2025

Menghadapi Pergumulan Hidup

         Kita sering dihadapkan pada berbagai tantangan dan pergumulan hidup yang kadang terasa begitu berat untuk dihadapi. Menjalani kehidupan yang penuh dengan pergumulan umumnya akan diiringi kecemasan, keraguan, kekecewaan, kelesuan iman, bahkan kemarahan karena sesuatu yang kita harapkan tak kunjung datang. Namun, seringkali pembentukan sikap hati kita diuji melalui berbagai pergumulan, dan sikap hati yang benar akan sangat menentukan kemenangan kita terhadap pergumulan hidup tersebut

Kalau kita mau jujur, sebetulnya apa yang kita rasakan ketika sedang menghadapi pergumulan? Bukankah kita cenderung menghitung segala kesulitan yang kita hadapi yang sepertinya tidak kunjung selesai dan terus menumpuk,  ketimbang menghitung hitung  akan kasih dan kebaikan Allah yang telah dinyatakan kepada kita dalam diri Tuhan Yesus, yang telah menyerahkan nyawa-Nya mati di kayu salib karena kasih kepada kita. Dalam nyanyian pengajarannya, bani Korah berkata, mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku (Mzm. 42:6).

    Ketika pergumulan itu tak kunjung usai, arahkan seluruh hidup kita untuk melihat segala kebaikan Allah yang telah memelihara kehidupan kita. Kita perlu membuka mata rohani kita untuk melihat kehadiran Tuhan, yang perlu kita ingat dan sadari ketika kita menghadapi dan mengalami pergumulan yang berat adalah bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi- Nya. Itulah yang disampaikan oleh rasul Paulus dalam tulisannya kepada orang percaya di Roma (Rm. 8:28)

Manakala kita sedang diperhadapkan dengan berbagai-bagai pergumulan, tetapkanlah pilihan untuk tetap menjaga hati di hadapan Tuhan. Dengan sikap hati yang tak bersungut-sungut, tetap berpegang pada janji Tuhan yang teruji, tetap percaya penuh atas kebaikan dan kasih sayang-Nya yang melimpah dalam hidup kita, dan meyakini bahwa cara Tuhan adalah yang terbaik.

Langkah-langkah menghadapi pergumulan hidup :

1. Berdoa:

Doa adalah sarana komunikasi langsung dengan Tuhan. Melalui doa, curahkan segala kekhawatiran, ketakutan, dan beban yang dirasakan.

2. Membaca Alkitab:

Alkitab adalah sumber hikmat dan penghiburan. Renungkan firman Tuhan untuk mendapatkan perspektif baru dan kekuatan.

3. Berserah pada Rencana Tuhan:

Serahkan sepenuhnya hidup kepada Tuhan dan percayalah bahwa Dia memiliki rencana yang baik, meskipun kita tidak selalu mengerti.

4. Bergabung dalam Persekutuan/ Komunitas Iman:

Berbagi beban dan mencari dukungan dari sesama orang beriman dapat memberikan kekuatan dan semangat.

5. Bersyukur:

Ucapkan syukur atas segala hal, termasuk dalam pergumulan, karena Tuhan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.


“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan bertindak”. (Mazmur 37:5).





Tuesday, 6 May 2025

Apakah Anda pernah merasa dijauhi orang lain atau dibenci ?
















"Orang-orang yang memusuhi aku besar jumlahnya, banyaklah orang-orang yang membenci aku tanpa sebab." ( Maz 38:19)
Apakah Anda pernah merasa dijauhi orang lain atau dibenci ?

    Apabila kita dibenci oleh karena perbuatan atau kesalahan kita sendiri, itu adalah risiko yang harus kita terima. Atau apabila kita dibenci orang karena hasutan pihak lain yang tidak bisa kita cegah, apa daya kita ?

Akan tetapi bagaimana bila seperti pemazmur, kita dibenci tanpa sebab? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana cara kita untuk membela diri?

Kemanakah Anda menaruh harapan?

Apakah yang akan kita lakukan?

    Akankah kita menjauhkan diri dari cara hidup orang yang tidak takut akan Allah/ fasik/pencemooh, atau ..... sebaliknya, harus menggabungkan diri dengan mereka saja, karena sepertinya menyenangkan dan kebanyakan mereka justru orang-orang yang sukses dalam hidupnya ?

Faktanya, kita nggak bisa membuat semua orang selalu menyukai kita. Ujaran kebencian yang kita dapatkan dari komentar teman bisa membuat hati kita panas. Bahkan, meskipun kita berkali-kali mencoba untuk menghindarinya, tetap saja ada pikiran yang bikin kita nggak bisa berhenti memikirkannya. Tentu saja, sebagai orang percaya, kita diajarkan untuk mengasihi sesama, tidak terkecuali mereka yang tidak menyukai kita, bahkan cenderung membenci kita. Mereka ada di sekitar kita, sehingga nggak mungkin buat dihindari. Yesus sendiri punya banyak orang yang membencinya.

    Mari jangan tertipu oleh filsafat palsu dunia. Mari tetap melayani Allah dan mohon hikmat serta perkenananNya selalu. Ia akan memberikan segala berkat yang tidak berkesudahan, jika kita berteguh hati untuk selalu mencari wajahNya. Mungkin kadang kita akan dijauhi dan disalahpahami orang lain, namun Allah melihat segala yang kita lakukan dan pada akhirnya akan memberi upah atas setiap perbuatan baik dan benar yang kita lakukan di hadapanNya.

    satu- satunya yang bisa kita lakukan adalah berseru kepada Tuhan Allah dan memohon pertolongan-Nya.

    Saat kita dibenci tanpa sebab, serahkanlah diri kita pada kasih Tuhan dan percayakan kedamaian dan keselamatan hidup kita kepada-Nya.

 Karena Allah berfirman: “Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia.” (Ams. 16:7)

 dan

"Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!"  (Roma 12:4)


"Tuhan Yesus memberkati"


Tuesday, 29 April 2025

Umpan Iblis

Friday, 15 February 2019

PERMUSUHAN

Kadangkala, orang-percaya mungkin saja tidak puas dengan tindakan atau kebijakan dari para pemimpin Gereja. Sebuah peristiwa yang terjadi di awal sejarah Gereja menggambarkan hal ini (Kis 6:1-7). Sekelompok orang di Gereja Yerusalem mengeluh kepada para rasul bahwa beberapa orang tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut kemudian diperbaiki sehingga Gereja pun dapat bertumbuh (Kis 6:7). Gereja mula-mula menggunakan konflik sebagai kesempatan untuk meningkatkan pelayanan. Namun, ketika Gereja tidak memiliki proses yang jelas untuk menangani masalah, manusia cenderung menggunakan cara mereka sendiri.

Mereka mungkin akan mulai meminta pendapat dari gereja lain, mulai bergosip, atau bahkan membentuk kelompok "orang-orang yang menaruh perhatian." Kepemimpinan yang baik dapat membantu menghindari masalah ini dengan tidak mementingkan diri sendiri, termasuk menjadi gembala yang penuh kasih. Pemimpin (Pendeta,Penatua,Diaken) harus menjadi hamba dan teladan, bukannya menjadi seorang penguasa (1 Pet 5:1-3).


Anggota gereja yang dikecewakan pun harus tetap menghormati pemimpinnya (Ibrani 13:7, 17), tidak lekas menuduh mereka (1 Tim 5:19), dan menyatakan kebenaran kepada mereka dengan penuh kasih, bukannya membicarakan mereka dengan orang lain (Ef 4:15). Pada saat seorang pemimpin tampaknya tidak menanggapi sebuah masalah, orang tersebut harus mengikuti pola yang telah ditetapkan dalam Matius 18:15-17, untuk memastikan tidak muncul kesalahpahaman sehinggga mereka masing-masing bisa memahami posisinya.

Alkitab mengingatkan bahwa orang-orang di dalam Gereja mungkin akan mengalami konflik antara satu sama lain. Beberapa konflik timbul karena kesombongan dan keegoisan (Yak 4:1-10). Beberapa konflik timbul karena pelanggaran-pelanggaran yang belum diampuni (Mat 18:15-35). Allah telah mengatakan kepada kita untuk mengusahakan damai sejahtera (Rm 12:18; Kol 3:12-15). Ini merupakan tanggung jawab setiap orang-percaya untuk berusaha menyelesaikan konflik.

Apakah kita bisa secara bersama sama menyelesaikan konflik dengan cara yang ditunjukkan dalam Alkitab ?

1. Menumbuhkan sikap hati yang benar- yaitu lemah lembut (Gal 6:1); rendah hati (Yak 4:10); pemaaf (Ef 4:31,32); dan penyabar (Yak 1:19,20).

2. Intropeksi peranan kita di dalam konflik - Matius 7:1-5 (penting sekali untuk punya sikap terlebih dahulu mengeluarkan balok dari mata sendiri sebelum membantu mengeluarkan selumbar dari mata orang lain).

3. Mendatangi pribadi yang bersangkutan (bukan mendatangi orang lain) untuk menyatakan kepedulian kita - Matius 18:15. Hal ini harus dilakukan dengan kasih (Efe 4:15), bukan sekedar menyampaikan keluhan atau mencurahkan emosi. Merasa tertuduh cenderung mendorong seseorang menjadi defensif. Oleh karena itu, mari bicarakan masalahnya dan jangan menyerang pribadinya. Hal ini tentu dapat memberikan kesempatan yang lebih baik kepada orang tersebut untuk menjelaskan situasi atau meminta pengampunan atas pelanggarannya.

4.Jika langkah awal untuk penyelesaian konflik ini tidak mencapai hasil yang dibutuhkan, kita lanjutkanlah dengan meminta orang lain yang mungkin dapat membantu proses mediasi (Mat 18:16). Ingat, tujuan kita bukan untuk memenangkan argumen; melainkan supaya sesama orang-percaya bisa berdamai.

Kiranya Damai Tuhan Yesus selalu meyertai kita senantiasa, dan kita perlu tetap memelihara kasih Nya sehingga hal-hal tersebut diatas (permusuhan) dijauhkannya dari kita.

Thursday, 2 August 2018

JANGAN JEMU BERDOA

Ayat bacaan: Lukas 18:1
“Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.”

Kegigihan seorang anak dalam meminta sesuatu kepada orang tuanya seringkali cepat membuat para orang tua luluh. Mungkin hari ini permintaan belum dikabulkan, mungkin besok pun belum, tapi ketika si anak meminta dengan baik-baik dan tidak jemu-jemu, hati orang tua akan luluh cepat atau lambat. Begitu sayangnya kepada anak, orang tua biasanya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengabulkan permintaan anaknya meski mungkin berada di luar kemampuannya. Apalagi jika kebutuhan si anak merupakan sesuatu yang penting, tentu orang tua akan lebih mati-matian lagi berusaha memenuhinya. Seorang teman pernah bercerita bahwa kegigihan dalam meminta sungguh memegang peranan penting. Dulu di saat ia kecil ia merasakan hal ini, kini setelah ia mempunyai anak, hal yang sama ia rasakan dalam posisi yang berbeda. “Tidak tega rasanya melihat mereka meminta dengan wajah polos mereka yang penuh harap” katanya.

Dalam menghadapi masalah, seberapa besar kesabaran kita untuk berharap pada Tuhan? Seringkali ketidaksabaran ini menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk menikmati janji-janji Tuhan. Awalnya mungkin kita terus berdoa dengan rajin, tapi ketika jawaban tidak kunjung datang secepat yang kita kehendaki, intensitas doa pun menurun, bahkan mungkin pada satu saat berhenti total. Sebagian orang akan segera mencari alternatif-alternatif lain akibat merasa kecewa kepada Tuhan. Mereka tidak mampu menerima kenyataan bahwa waktunya Tuhan yang terbaik, dan Tuhan sudah berjanji untuk sediakan segala yang terbaik itu kepada kita semua. Waktu yang terbaik yang kita anggap benar hanyalah berpusat pada pandangan kita pribadi, bukan lagi waktunya Tuhan. Sebagian orang malah hanya menganggap doa seperti mengirim paket permintaan semata. Ada perlu baru berdoa, jika semua berjalan sesuai keinginan, maka doa pun tidak dibutuhkan lagi. Padahal doa merupakan sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan. Semakin rajin kita berdoa, hubungan kita akan semakin dekat, kita pun akan semakin peka terhadap suaraNya.

Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan menarik mengenai ketekunan berdoa daalm Lukas 18:1-8. Mengambil perumpamaan tentang seorang janda, sosok yang lemah dan sering digambarkan sebagai figur yang tertindas dan diperlakukan tidak adil di dalam Alkitab, dan seorang hakim yang lalim. Dalam kisah ini, si janda diceritakan terus memohon kepada hakim lalim agar haknya dibela. (ay 3). Sementara si hakim bukanlah orang yang takut akan Tuhan, dan sikapnya tidak menghormati siapapun. Sesuai dengan gambaran pribadi si hakim, sudah tentu ia menolak permohonan janda ini. Tapi lihatlah janda itu tidak jemu-jemu mendatanginya dan memohon, ia pun kemudian luluh dan membenarkan si janda. Dan Yesus pun berkata, “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!” (ay 6). Jika hakim yang lalim saja bisa luluh terhadap permohonan tidak jemu-jemu, dan pada akhirnya mau mengabulkan permintaan si janda, masakan Tuhan yang begitu penuh kasih setia, begitu mengasihi kita manusia ciptaanNya sendiri tidak mendengarkan seruan kita?“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (ay 7). Tuhan yang penuh kasih dan adil akan selalu membenarkan anak-anakNya yang siang dan malam berseru kepadaNya dengan tidak jemu-jemu! Dia tidak akan mengulur-ulur waktu untuk menolong kita!


Janji Tuhan akan selalu ditepati. Yang jadi masalah seringkali kita memandang hanya berdasarkan apa yang terbaik menurut kita sendiri saja, bukan kepada apa yang terbaik menurut Tuhan. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”(Pengkotbah 3:11). Apa yang Tuhan Yesus ajarkan lewat perumpamaan tadi begitu jelas. “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.”(Lukas 18:1). Yesus mengajarkan bagaimana kuasa doa, bagaimana kita sebagai anak-anak Allah sebaiknya terus berdoa siang dan malam dengan tidak jemu-jemu, tanpa putus asa. Paulus dalam beberapa kesempatan menunjuk pada doa yang terus dilakukan siang dan malam dengan sungguh-sungguh. Salah satu contoh adalah ketika Paulus menyatakan betapa ia terus berdoa siang dan malam dalam kerinduan untuk bertemu dengan para jemaat di Tesalonika dan melayani mereka. (1 Tesalonika 3:10).


Berdoa dengan tidak jemu-jemu, doa yang dipanjatkan terus menerus siang dan malam bukanlah berarti doa harus terus kita ulang-ulang atau bertele-tele. Hal berdoa diajarkan dengan jelas oleh Yesus sendiri dalam Matius 6:5-15. Bukan karena banyaknya kata-kata, keindahan rangkaian kata dalam doa, tapi doa yang disertai iman lah yang penting. Bukan pula doa yang hanya dilakukan karena ada permintaan dan kebutuhan, menjadikan doa sebagai paket permintaan, tapi dasarkan doa sebagai sarana bagi kita untuk membina keintiman hubungan dengan Tuhan. Sejauh mana kita mampu bergantung dan mau mengandalkan Tuhan, itu bisa terlihat dari kesetiaan kita dalam berdoa. Dalam Roma kita diingatkan agar senantiasa “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Bertekun dalam doa, tidak jemu-jemu, siang dan malam, tidak akan pernah sia-sia. Ada kalanya jawaban Tuhan tidak akan segera datang. Mungkin waktunya belum tepat, mungkin Tuhan ingin menguji keteguhan dan ketekunan kita, tapi pada saatnya, Tuhan akan menolong dan memberkati kita sesuai janji-janjiNya. Itu pasti. Karena itu, hindarilah ketidaksabaran yang bisa mengarahkan kita kepada rupa-rupa kesesatan ketika kita memilih untuk mencari alternatif atau jalan pintas yang bisa membinasakan. Adalah jauh lebih penting untuk membina hubungan karib dengan Tuhan, dan sarana untuk itu adalah melalui doa. Bertekunlah berdoa. Jangan jemu-jemu. “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.“ (Ibrani 10:23).


24WORSHIP.COM

Tuesday, 20 February 2018

BERUBAHLAH




”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”


(Roma 12:2)




Berubahlah..................(Kau Juga )


Menjadi orang Kristen berarti harus mengalami perubahan. Kalau sebelum percaya dan sesudah percaya Yesus, tidak ada perubahan berarti sia-sia belaka menjadi Kristen. Tuhan Yesus meminta kita untuk berubah dan Dia juga memberikan kita kekuatan-Nya untuk bisa berubah. Berubah dalam hal apa? Berubah dalam hal karakter yang tidak baik menjadi baik.

Perubahan itu ternyata dimulai dari pembaharuan budi. Apa itu budi? Yang dimaksud budi ialah akal, pikiran dan perasaan kita. Nah, setiap kita mendengar firman berarti sebenarnya budi kita sedang dibaharui. Dan Roh Kudus juga memberikan pengertian yang membawa kita kepada perubahan sesuai kebenaran Allah.

Oleh karena itu, yang terjadi kepada kita ialah mengalami perubahan dalam karakter setelah mengalami pembaharuan budi melalui pendengaran akan firman Tuhan. Tapi mengapa, ada yang sudah jadi Kristen puluhan tahun, karakternya tidak berubah juga? Itu namanya bebal! Orang bebal itu hebat dalam mendengar tapi selalu gagal dalam mempraktekkan firman.

Kita dapat dikatakan 'berbeda' bila ada perubahan hidup yang benar-benar nampak dan bisa dilihat oleh orang lain dengan ditandai buah-buah Roh. "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." (Matius 3:8). Berubah dan berbuah merupakan kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya. Inilah kehendak Tuhan itu: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2), dan "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8).

Mengapa setiap orang percaya harus berubah dan berbuah? Seorang Kristen dapat dikatakan berubah apabila karakternya juga berubah. "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu." (1 Korintus 13:11). Berubah berarti bergerak menuju ke arah Kristus dengan meninggalkan sifat kanak-kanak dan bertumbuh menjadi dewasa rohani. Bukankah masih banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan dan ditinjau dari sudut umur pun sudah dewasa (tua), namun mereka tetap saja memiliki kerohanian yang kerdil? "Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil." (Ibrani 5:12-13).

Terkadang kita lebih cenderung berfokus mengubah orang lain supaya menjadi lebih baik, tetapi akhirnya kita lelah dan kecewa sendiri. Padahal kita tidak punya andil untuk mengubahkan orang lain. Hanya Tuhan yang sanggup. Yang kita dapat lakukan hanya berdoa dan menunjukkan kasih kepada orang tersebut. Selebihnya Tuhan yang akan bertindak untuk mengubahkan orang tersebut.

Belajar mengubah diri sendiri jauh lebih baik ketimbang memaksa Kawan kita berubah sesaui apa yg kita mau..

Perubahan adalah harapan dan tantangan!

Perubahan bersifat pasti dan tidak tebang pilih. Bagi sebagian orang perubahan adalah harapan yg membawa sukacita namun tidak sedikit orang yg tenggelam dalam kegelisahan karena merasa dipukul oleh proses perubahan. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak. Perubahan adalah fakta yang tidak dapat dihindari dari kehidupan. Semua orang tanpa kecuali akan menghadapi fase perubahan.

Respon kita terhadap perubahan menunjukkan sejauh mana kematangan hubungan kita kepada Allah.

Perubahan ditentukan oleh beberapa faktor:

I. Pembaharuan HATI adalah kekuatan menghadapi PERUBAHAN

" Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang"

Realita yg dihadapi orang percaya bukanlah kehidupan yg terus menerus nyaman sesuai harapan. Allah sering kali tidak mengubah keadaan atau orang yg tidak menguntungkan disekitar kita namun Allah justru berhasrat mengubah hati kita lebih dahulu supaya sanggup menghadapi terjadinya segala perubahan.
Rumusan kehidupan kadang berjalan tidak simetris, dimana orang baik seharusnya mendapatkan ganjaran keberhasilan dan kemujuran bukan orang jahat yg mendapatkan kemakmuran. Hal ini memantik persepsi salah tentang ketidak adilan Allah dan iri hati kepada sesama.

Daud dengan tegas bahkan berulang kali memperingatkan:
"jangan marah; jangan iri hati; berhentilah marah ; tinggalkanlah panas hati" karena sikap tersebut hanya membawa kepada kejahatan

Gagasan PENERIMAAN DIRI menjadi kekuatan untuk dapat menguasai diri!
Menerima dengan senang hati segala bentuk perubahan bukan sekedar menyelesaikan aspek psikologis manusia namun juga membenarkan sikap secara teologis.

Penerimaan diri sendiri , keadaan dan orang lain menjadi sangat penting, karena bermula dari titik inilah langkah kita berlanjut dengan benar. Ironisnya reaksi alami terhadap perubahan keadaan atau orang disekitar kita adalah sikap memberontak, lebih nyata diungkapkan dalam sikap marah dan iri hati.

Apa pentingnya penerimaan diri dalam menghadapi perubahan?

a. Penerimaan diri menunjukkan pengenalan PRIBADI ALLAH
Percayalah kepada TUHAN........bergembiralah karena TUHAN.....serahkanlah hidupmu kepada TUHAN......berdiam dirilah dihadapan TUHAN.....
Menempatkan Tuhan sebagai pribadi yg tidak pernah berhenti bekerja dan tidak pernah berbuat salah dalam pekerjaanNya!.
Kemarahan sebagai tanggapan atas perubahan keadaan, sering kali bermuatan kecurigaan terhadap Allah dengan sangkaan telah bersikap tidak adil kepada mereka yg merasa telah berbuat benar. Faktanya Allah tidak mungkin diam atau telah berbuat kesalahan dalam karyaNya.

b. Penerimaan diri menunjukkan keutamaan nilai KEABADIAN
"mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau"
Perubahan yg sedang kita hadapi saat ini adalah dinamika kehidupan alami. wajar, biasa saja dan harus terjadi, hanya berlangsung sementara saja.

c. Cara penilaian kita yg temporer (sementara, fana) seharusnya diubahkan menjadi cara berpikir yg abadi. Bukan sebatas indah pada hari ini saja namun apakah juga berguna sampai dikeabadian!

d. Penerimaan diri menunjukkan pentingnya nilai KEBENARAN
"Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan"
Kehilangan kepercayaan diri akan berdampak pada tidak terkontrolnya penguasaan diri. Dengan sikap tidak puas atau melawan terhadap perubahan, hal itu bukan saja tidak dapat menyelesaikan persoalan justru menciptakan persoalan baru yg lebih menyulitkan diri sendiri.

Perspektif yg harus dibangun adalah menata kembali pola pikir : seberapa lama perubahan itu akan terjadi dan seberapa bernilai benar perubahan tersebut. Jika berorientasi KEKEKALAN dan KEBENARAN itulah perubahan yg sedang dikerjakan Allah dalam diri kita.

II. Pembaharuan IMAN adalah kuasa menuju terjadinya PERUBAHAN
Banyak perkara yg tidak mampu kita kerjakan dengan diri sendiri. Kita tidak sanggup mengubah keadaan sekitar, tidak sanggup mempengaruhi orang lain bahkan tidak sanggup merubah diri sendiri. Sementara segala sesuatu terus berubah yg berdampak pada eksistensi diri kita.
Adakah jalan terbaik untuk menghadapi perubahan?
Daud menyerukan, mengajak dan memerintahkan kita supaya berketetapan iman untuk hanya mempercayakan seluruh dinamika kehidupan pada Tuhan.

III. Pembaharuan KETAATAN adalah rahasia yang membawa pada PERUBAHAN
Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; "TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, "

Berulang kali diteriakkan ungkapan: tetap tinggal selama-lamanya, sampai selama-lamanya terpelihara, akan mewarisi negeri, milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya. Gagasan ini menjelaskan bahwa yang dikerjakan Allah bukanlah perubahan semu tetapi perubahan besar, perubahan nyata dan perubahan abadi, suatu bentuk pekerjaan yg sangat berkualitas tinggi.

Survival (bertahan hidup sampai selama-lamanya) bersama dengan Allah menjadi hak hidup mereka yg teguh berpegang pada hukum Tuhan.
Bagaimana perubahan abadi dapat menjadi bagian kita?
Dari mana dimulainya perubahan yg bernilai benar dan abadi , dimulai dari kesediaan kita berjalan menurut firman Allah. Langkah ini jauh lebih mendasar dari kebutuhan pemahaman psikologis , mengatur strategi atau memperbesar kapasitas kerja supaya dapat meraih sukses masa depan.
Rahasia perubahan masa depan jelas dimulai dari KESELARASAN HIDUP didalam ALLAH.
Sejauh mana ketaatan kita dalam melakukan firman Allah itu berbanding lurus dengan intervensi Allah dalam melakukan perubahan masa depan kita.

Semakin cepat karakter pribadi berubah seturut firmanNya, semakin banyak perkara ajaib yg Allah kerjakan menjadi hak kita. Semakin lama kita menunda ketaatan pada firmanNya maka akan menambah daftar panjang kegagalan dan penantian kosong yg menyengsarakan.
Allah merindukan semua orang yg percaya kepadaNya mendapatkan pancaran kasih setia dan kuasaNya.


Selamat mengalami perubahan bersama dengan Allah.


KERINDUAN untuk berubah membutuhkan KOMITMEN. KOMITMEN membutuhkan KESUNGGUHAN. Dan KESUNGGUHAN membutuhkan CARA YANG BENAR yaitu sesuai FIRMAN TUHAN!





Saturday, 14 October 2017

LAMBE TURAH ( GOSIP DAN FITNAH)

          Fitnah adalah perkataan yang merusak reputasi, umumnya disertai niat jahat, baik secara lisan atau tertulis. Gosip adalah percakapan atau obrolan pribadi yang kosong; kabar angin yang tidak berdasar.
FITNAH;GOSIP
Fitnah
Tidak semua gosip itu buruk atau merugikan, walaupun bisa saja demikian. Kadang-kadang yang dipercakapkan adalah hal-hal baik tentang seseorang atau beberapa orang, atau bisa juga mengenai hal-hal sepele atau yang tidak menimbulkan sakit hati tentang orang lain, karena adanya minat pribadi. Namun, gosip dapat dengan mudah beralih menjadi percakapan yang menyakitkan atau menimbulkan problem, sebab gosip adalah percakapan kosong. Alkitab memperingatkan kita terhadap kata-kata kosong, dengan menunjukkan bahwa lidah sulit dijinakkan dan bahwa lidah ”merupakan suatu dunia ketidakadilbenaran di antara anggota-anggota tubuh kita, karena ia menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan”. Daya hancurnya semakin ditandaskan seraya sang penulis Alkitab melanjutkan, ”dan ia dinyalakan oleh Gehena”. (Yak 3:6) Bahayanya percakapan kosong yang sembarangan sering ditandaskan. Tutur kata semacam itu dikaitkan dengan kebebalan atau kebodohan (Ams 15:2); hal itu adalah jerat dan dapat mendatangkan kebinasaan atas orang yang mengucapkannya. (Ams 13:3; 18:7) ”Dalam banyaknya kata-kata, pelanggaran tidak akan kurang,” kata sebuah peribahasa, yang menasihatkan bahwa menahan bibir merupakan tindakan yang bijaksana. (Ams 10:19) ”Ia yang menjaga mulutnya dan lidahnya menjaga jiwanya terhadap kesusahan” adalah peringatan agar tidak melakukan percakapan yang tidak dipikir, yang sembarangan, atau kosong.—Ams 21:23.
”Sebab dari kelimpahan hatilah mulut berbicara,” kata Yesus Kristus. (Mat 12:34) Oleh karena itu, apa yang biasanya dibicarakan menunjukkan apa yang ada dalam hati. Alkitab mendesak kita untuk menjaga hati dan untuk berpikir serta berbicara tentang hal-hal yang benar, serius, adil-benar, murni, membangkitkan perasaan kasih, patut dibicarakan, bajik, dan patut dipuji. (Ams 4:23; Flp 4:8) Yesus Kristus mengatakan, ”Apa yang keluar dari mulut, itulah yang mencemarkan orang,” dan ia selanjutnya menyebutkan ”pikiran yang fasik” dan ”kesaksian palsu” di antara hal-hal yang keluar dari mulut tetapi yang sebenarnya keluar dari hati.—Mat 15:11, 19.
            Gosip dapat mengarah kepada fitnah, yang mendatangkan bencana bagi si pemfitnah. Hikmat di balik kata-kata di Pengkhotbah 10:12-14 sangat nyata, ”Bibir orang bebal menelan habis dirinya. Permulaan dari perkataan mulutnya adalah kebodohan, dan akhir dari mulutnya adalah kegilaan yang menyebabkan malapetaka. Dan orang bodoh banyak bicaranya.”
Gosip adalah percakapan yang menyingkapkan sesuatu berkenaan dengan perbuatan dan urusan orang lain. Gosip bisa merupakan kabar angin yang tidak berdasar, bahkan dusta, dan meskipun si penggosip mungkin tidak mengetahui ketidakbenaran kabar angin itu, ia tetap menyebarkannya, sehingga ia pun bertanggung jawab atas tersebarnya suatu dusta. Bisa jadi, yang dibicarakan si penggosip adalah kesalahan dan kekeliruan seseorang. Namun, sekalipun hal-hal yang dikatakan itu benar, si penggosip tetap bersalah dan hal itu menunjukkan kurangnya kasih. Sebuah peribahasa mengatakan, ”Orang yang menutupi pelanggaran mengupayakan kasih, dan ia yang terus berbicara tentang suatu persoalan memisahkan orang-orang yang mengenal baik satu sama lain.”—Ams 17:9.
       Rasul Paulus memberikan nasihat tegas kepada Timotius, sang pengawas, tentang tingkah laku para janda muda yang tidak mengurus rumah tangga dan yang tidak menyibukkan diri dalam pekerjaan melayani orang lain. Ia mengatakan, ”Mereka juga menjadi terbiasa untuk tidak mempunyai kesibukan, berkeluyuran ke rumah-rumah; ya, bukan hanya tidak mempunyai kesibukan, tetapi juga suka bergosip dan mencampuri urusan orang lain, membicarakan hal-hal yang tidak sepatutnya mereka bicarakan.” (1Tim 5:13) Perbuatan tersebut merupakan tingkah laku yang tidak tertib. Rasul yang sama berbicara tentang beberapa orang di sidang Tesalonika yang ”berjalan dengan tidak tertib, dengan tidak bekerja tetapi mencampuri apa yang bukan urusan mereka”. (2Tes 3:11) Rasul Petrus mengelompokkan ”orang yang suka mencampuri urusan orang lain” bersama orang-orang yang sangat jahat—pembunuh, pencuri, dan pelaku kejahatan.—1Ptr 4:15.
        Di pihak lain, bukanlah gosip atau fitnah dan tidaklah salah untuk melaporkan keadaan-keadaan yang mempengaruhi sidang kepada orang-orang yang memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengawasi serta memperbaiki masalah. Fakta ini ditunjukkan dalam catatan Alkitab tentang sidang Kristen di Korintus kuno. Di sidang itu pertikaian dan pemberian hormat yang berlebihan kepada manusia telah menimbulkan sikap sektarian, yang merusak persatuan sidang. Beberapa orang dari keluarga Khloe, yang menyadari hal itu dan prihatin akan kesejahteraan rohani sidang, mengemukakan fakta tersebut kepada rasul Paulus yang sedang tidak berada di Korintus, sehingga sang rasul bertindak cepat, menulis nasihat korektif kepada sidang itu dari Efesus.—1Kor 1:11.

Apa perbedaan antara gosip dan fitnah?

          Dalam beberapa kasus, gosip tidak begitu berbahaya (meskipun bisa saja menjadi atau mengarah kepada fitnah), tetapi fitnah selalu merugikan dan selalu mengakibatkan sakit hati dan pertengkaran. Fitnah bisa diucapkan dengan atau tanpa motif jahat. Apa pun kasusnya, si pemfitnah menempatkan dirinya pada kedudukan yang buruk di hadapan Allah, sebab perbuatan ”menimbulkan pertengkaran di antara saudara-saudara” termasuk di antara hal-hal yang Allah benci. (Ams 6:16-19) Kata Yunani untuk ”pemfitnah” atau ”penuduh” adalah di•aʹbo•los. Dalam Alkitab, kata itu juga digunakan sebagai gelar bagi Setan ”si Iblis”, pemfitnah utama Allah (Yoh 8:44; Pny 12:9, 10; Kej 3:2-5), sehingga nyatalah sumber tuduhan yang merusak reputasi tersebut.
Fitnah merupakan batu sandungan bagi orang lain, khususnya bagi korban fitnah itu. Hukum yang Allah berikan kepada Israel memerintahkan, ”Jangan pergi berkeliling di antara bangsamu untuk memfitnah. Jangan bangkit menentang darah sesamamu.” (Im 19:16) Di ayat ini, seriusnya fitnah ditandaskan dengan menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, tuduhan palsu dapat benar-benar menyebabkan hukuman mati. Para saksi palsu telah sering digunakan untuk menyebabkan kematian orang-orang yang tidak bersalah.—1Raj 21:8-13; Mat 26:59, 60.
   Ada hal-hal yang konfidensial, tetapi seorang pemfitnah senang menyingkapkannya kepada orang-orang yang tidak berhak tahu. (Ams 11:13) Si pemfitnah mendapatkan kesenangan dengan mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan sensasi. Orang yang mendengarkan fitnah juga bersalah dan merugikan dirinya sendiri. (Ams 20:19; 26:22) Orang dapat menjauhi teman-temannya karena pernyataan tertentu yang merusak reputasi mereka yang dilontarkan seorang pemfitnah, dan berkembanglah permusuhan dan perpecahan.—Ams 16:28.
Alkitab menubuatkan bahwa kehadiran para pemfitnah akan tampak sangat jelas sebagai salah satu ciri ”hari-hari terakhir”. (2Tim 3:1-3) Jika ada orang-orang seperti itu, pria ataupun wanita, di antara umat Allah, mereka harus ditegur dan dikoreksi oleh orang-orang yang bertanggung jawab dalam sidang Kristen. (1Tim 3:11; Tit 2:1-5; 3Yoh 9, 10) Fitnah, karena menimbulkan pertengkaran (Ams 16:28), menghasilkan beberapa ”perbuatan daging” (misalnya kebencian, pertengkaran, dan perpecahan) yang akan menyebabkan si pemfitnah dan orang lain yang ia arahkan kepada perbuatan salah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah. (Gal 5:19-21) Walaupun seorang pemfitnah mungkin saja licik dan pintar menipu, kejahatannya akan disingkapkan dalam jemaat. (Ams 26:20-26) Yesus menyingkapkan Yudas, si pemfitnah (Yoh 6:70), kepada para rasulnya dan kemudian menyuruh Yudas pergi dari kelompoknya. Apa yang kemudian terjadi menyebabkan kebinasaan Yudas.—Mat 26:20-25; Yoh 13:21-27; 17:12.
         Salah satu bentuk fitnah adalah cercaan; orang yang mempraktekkannya patut dikeluarkan dari sidang Kristen, sebab pencerca dikutuk oleh Alkitab sebagai orang yang tidak pantas hidup. (1Kor 5:11; 6:9, 10) Fitnah dan cercaan sering dikaitkan dengan pemberontakan melawan Allah atau melawan orang-orang yang telah ditetapkan dan dilantik dengan patut oleh Allah untuk mengatur sidang jemaat umat-Nya. Salah satu contohnya ialah dalam kasus Korah dan rekan-rekannya, yang mengucapkan kata-kata fitnah terhadap Musa dan Harun dalam pemberontakan mereka melawan pengaturan Allah. (Bil 16:1-3, 12-14) Yudas menarik perhatian kepada para pemberontak itu dan kesudahan mereka sewaktu ia memperingatkan orang Kristen terhadap perbuatan mencaci, menggerutu, mengeluh, dan mengatakan ”hal-hal yang muluk-muluk”.—Yud 10, 11, 14-16.
      Semua orang pernah mengalami dampak buruk dari gosip. Meskipun orang-orang yang membicarakan tidak merugikan secara langsung, tetapi hasil dari gosip selalu merusak kepercayaan dan menyakiti perasaan. Gosip dapat didefinisikan sebagai informasi tentang perilaku atau kehidupan pribadi orang lain, yang seringkali tanpa berdasarkan kebenaran yang sepenuhnya. Firman Tuhan memperingatkan kita untuk menjauh dari orang-orang yang bergosip dan menjaga kata-kata ketika kita berbicara tentang orang lain!

    Alkitab juga menggunakan kata fitnah yang berarti mengucapkan pernyataan palsu untuk merusak reputasi seseorang. Fitnah dapat menghancurkan pernikahan, pekerjaan, kekayaan, dan keluarga seseorang. Lidah memiliki kekuatan dan kita harus berhati-hati dengan cara kita menggunakan kata-kata. Alkitab mengatakan kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan yang tidak seharusnya. Jika Anda sedang berjuang dengan gosip atau mengenal seseorang yang banyak bergosip, pelajari ayat-ayat Alkitab dan pilihlah untuk membantu menghentikan itu.

1. Efesus 4:29
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

2. Keluaran 23:1
Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.
3. Yakobus 1:26
Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

4. Yakobus 4:11
Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.

5. Amsal 10:18
Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal.

6. Amsal 16:28
Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.

7. Amsal 20:19
Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.

8. Mazmur 34:14
Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

9. Mazmur 141:3
Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!

10. Amsal 18:6-7
Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan. Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

Thursday, 21 September 2017

20 JAWABAN TUHAN ATAS PERGUMULAN HIDUP

20 JAWABAN TUHAN ATAS PERGUMULAN HIDUP
gksbsjambi.blogspot.co.id

(1). Mengapa Saya Berkata “Saya Tidak Bisa” jika TUHAN Mengatakan di Alkitab bahwa Saya Bisa Melakukan Segala Sesuatu Di Dalam Dia Yang Memberi Kekuatan Kepada Saya?
"Segala Perkara Dapat Kutanggung Di Dalam Dia Yang Memberi Kekuatan Kepadaku." (Filipi 4;13)
(2). Mengapa Saya Merasa Kurang Jika Saya Tahu Bahwa Allah Akan Memenuhi Segala Keperluan Saya Menurut Kekayaan Dan KemuliaanNya Dalam Kristus Yesus?
"Allahku Akan Memenuhi Segala Keperluanmu Menurut Kekayaan Dan Kemuliaan-Nya Dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19)
(3). Mengapa Saya Harus Merasa Takut Jika Alkitab Berkata Bahwa Tuhan Tidak Memberi Saya Roh Ketakutan, Melainkan Roh Yang Membangkitkan Kekuatan, Kasih, Ketertiban?
"Sebab Allah Memberikan Kepada Kita Bukan Roh Ketakutan, Melainkan Roh Yang Membangkitkan Kekuatan, Kasih Dan Ketertiban." (2 Timotius 1:7)
(4). Mengapa Saya Harus Merasa Kurang Iman Jika Saya Tahu Bahwa Allah Telah Mengaruniakan Kepada Saya Ukuran Iman Tertentu?
"Berdasarkan Kasih Karunia Yang Dianugerahkan Kepadaku, Aku Berkata Kepada Setiap Orang Di Antara Kamu: Janganlah Kamu Memikirkan Hal-Hal Yang Lebih Tinggi Dari Pada Yang Patut Kamu Pikirkan, Tetapi Hendaklah Kamu Berpikir Begitu Rupa, Sehingga Kamu Menguasai Diri Menurut Ukuran Iman, Yang Dikaruniakan Allah Kepada Kamu Masing-Masing." (Roma 12:3)
(5). Mengapa Saya Menjadi Lemah Jika Alkitab Berkata Bahwa Allah Adalah Terang Dan Keselamatan Saya Dan Bahwa Saya Akan Tetap Kuat Dan Akan Bertindak?
"Dari Daud. TUHAN Adalah Terangku Dan Keselamatanku, Kepada Siapakah Aku Harus Takut? TUHAN Adalah Benteng Hidupku, Terhadap Siapakah Aku Harus Gemetar?" (Mazmur 27:1)
"Dan Orang-Orang Yang Berlaku Fasik Terhadap Perjanjian Akan Dibujuknya Sampai Murtad Dengan Kata-Kata Licin; Tetapi Umat Yang Mengenal Allahnya Akan Tetap Kuat Dan Akan Bertindak." (Daniel 11:32)
(6). Mengapa Saya Harus Membiarkan Iblis Menang Atas Hidup Saya Jika Roh Yang Ada Di Dalam Saya Lebih Besar Dari Pada Roh Yang Ada Di Dalam Dunia?
"Kamu Berasal Dari Allah, Anak-Anakku, Dan Kamu Telah Mengalahkan Nabi-Nabi Palsu Itu; Sebab Roh Yang Ada Di Dalam Kamu, Lebih Besar Dari Pada Roh Yang Ada Di Dalam Dunia." (1 Yohanes 4:4)
(7). Mengapa Saya Harus Pasrah Kalah Jika Alkitab Berkata Bahwa Allah Dalam Kristus Selalu Membawa Kita Di Jalan KemenanganNya?
"Tetapi Syukur Bagi Allah, Yang Dalam Kristus Selalu Membawa Kami Di Jalan Kemenangan-Nya. Dengan Perantaraan Kami Ia Menyebarkan Keharuman Pengenalan Akan Dia Di Mana-Mana." (2 Korintus 2:14)
(8). Mengapa Saya Harus Kekurangan Hikmat Jika Kristus Sendiri Telah Menjadi Hikmat Bagi Saya Dan Allah Akan Memberi Hikmat Jika Saya Minta PadaNya?
"Tetapi Oleh Dia Kamu Berada Dalam Kristus Yesus, Yang Oleh Allah Telah Menjadi Hikmat Bagi Kita. Ia Membenarkan Dan Menguduskan Dan Menebus Kita." (1 Kotinrut 1:30)
"Tetapi Apabila Di Antara Kamu Ada Yang Kekurangan Hikmat, Hendaklah Ia Memintakannya Kepada Allah, –Yang Memberikan Kepada Semua Orang Dengan Murah Hati Dan Dengan Tidak Membangkit-Bangkit–,Maka Hal Itu Akan Diberikan Kepadanya." (Yakobus 1:5)
(9). Mengapa Saya Harus Depresi Jika Saya Dapat Mengingat Bahwa Saya Dapat Berharap Pada Allah Yang Kasih SetiaNya Tidak Habis-HabisNya Setiap Pagi?
"Tetapi Hal-Hal Inilah Yang Kuperhatikan, Oleh Sebab Itu Aku Akan Berharap: Tak Berkesudahan Kasih Setia TUHAN, Tak Habis-Habisnya Rahmat-Nya, Selalu Baru Tiap Pagi; Besar Kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:21-23)
(10). Mengapa Saya Harus Kuatir, Resah, Dan Rewel Jika Saya Dapat Menyerahkan Segala Kekuatiran Saya Pada Tuhan Yang Memelihara Saya?
"Serahkanlah Segala Kekuatiranmu Kepada-Nya, Sebab Ia Yang Memelihara Kamu." (1 Petrus 5:7)
(11). Mengapa Saya Harus Selalu Hidup Dalam Beban Jika Saya Tahu Bahwa Di Mana Ada Roh Allah, Ada Kemerdekaan, Dan Kristus Telah Memerdekakan Kita?
"Sebab Tuhan Adalah Roh; Dan Di Mana Ada Roh Allah, Di Situ Ada Kemerdekaan." (2 Korintus 3:17)
"Supaya Kita Sungguh-Sungguh Merdeka, Kristus Telah Memerdekakan Kita. Karena Itu Berdirilah Teguh Dan Jangan Mau Lagi Dikenakan Kuk Perhambaan." (Galatis 5:1)
(12). Mengapa Saya Harus Merasa Terhukum Jika Alkitab Berkata Bahwa Saya Tidak Ada Lagi Di Bawah Penghukuman Sebab Saya Di Dalam Kristus?
"Demikianlah Sekarang Tidak Ada Penghukuman Bagi Mereka Yang Ada Di Dalam Kristus Yesus." (Roma 8:1)
(13). Mengapa Saya Harus Merasa Sendirian Jika Yesus Berkata Ia Akan Selalu Menyertai Saya, Tidak Akan Membiarkan Dan Tak Akan Meninggalkan Saya?
"Dan Ajarlah Mereka Melakukan Segala Sesuatu Yang Telah Kuperintahkan Kepadamu. Dan Ketahuilah, Aku Menyertai Kamu Senantiasa Sampai Kepada Akhir Zaman.” (Matius 28:20)
"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5)
(14). Mengapa Saya Harus Merasa Terkutuk Atau Merasa Saya Menjadi Korban Nasib Sial Jika Alkitab Berkata Bahwa Kristus Telah Menebus Kita Dari Kutuk Hukum Taurat Sehingga Oleh Iman Kita Menerima Roh Yang Telah Dijanjikan Itu?
"Kristus Telah Menebus Kita Dari Kutuk Hukum Taurat Dengan Jalan Menjadi Kutuk Karena Kita, Sebab Ada Tertulis: “Terkutuklah Orang Yang Digantung Pada Kayu Salib!” (Galatis 3:13-14)
(15). Mengapa Saya Harus Merasa Tidak Puas Dalam Hidup Ini Jika Saya,Seperti Paulus, Bisa Belajar Untuk Menjadi Puas Dalam Segala Keadaan?
"Kukatakan Ini Bukanlah Karena Kekurangan, Sebab Aku Telah Belajar Mencukupkan Diri Dalam Segala Keadaan." (Filipi 4:11)
16. Mengapa Saya Harus Merasa Tidak Layak Jika Kristus Telah Dibuat Menjadi Dosa Karena Kita, Supaya Di Dalam Dia Kita Dibenarkan Oleh Allah?
"Dia Yang Tidak Mengenal Dosa Telah Dibuat-Nya Menjadi Dosa Karena Kita, Supaya Dalam Dia Kita Dibenarkan Oleh Allah." (2 Korintus 5:21)
(17). Mengapa Saya Merasa Takut Disiksa Orang Jika Saya Tahu Bahwa Jika Allah Di Pihak Saya Tidak Ada Yang Akan Melawan Saya?
"Sebab Itu Apakah Yang Akan Kita Katakan Tentang Semuanya Itu? Jika Allah Di Pihak Kita, Siapakah Yang Akan Melawan Kita?" (Roma 8:31)
(18). Mengapa Saya Harus Bingung Jika Allah Adalah Raja Damai Dan Ia Memberi Saya Pengetahuan Melalui RohNya Yang Diam Di Dalam Kita?
Sebab Allah Tidak Menghendaki Kekacauan, Tetapi Damai Sejahtera." (1 Korintus 14:33)
"Kita Tidak Menerima Roh Dunia, Tetapi Roh Yang Berasal Dari Allah, Supaya Kita Tahu, Apa Yang Dikaruniakan Allah Kepada Kita." (1 Korintus 2:12)
(19). Mengapa Saya Harus Terus-Menerus Gagal Dan Jatuh Jika Alkitab Berkata Bahwa Sebagai Anak Allah Saya Lebih Daripada Orang-Orang Yang Menang Dalam Segala Hal, Oleh Dia Yang Telah Mengasihi Saya?
"Tetapi Dalam Semuanya Itu Kita Lebih Dari Pada Orang-Orang Yang Menang, Oleh Dia Yang Telah Mengasihi Kita." (Roma 8:37)
(20). Mengapa Saya Harus Membiarkan Tekanan Hidup Mengganggu Saya Jika Saya Dapat Punya Keberanian Karena Tahu Tuhan Yesus Telah Menang Atas Dunia Dan Penderitaan?
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33)
”Diamlah Dan Ketahuilah, Bahwa Akulah Allah !“ (Mazmur 46:11a)
TUHAN Semesta Alam 

Thursday, 14 September 2017

Tata Ibadah HPII / HPKD





TATA IBADAH


HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA & 
HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA
(HPII/HPKD)


Minggu, 01 Oktober 2017
Menggunakan Tata Ibadah
Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL)


Tema:
“MEWUJUDAKN KEADILAN MELALUI SIKAP BERBAGI”
(Ulangan 16:1-20)
   
                                   


PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDNESIA
Jl. Salemba Raya No. 10 Jakarta 10430 Telp. 021 – 31504455/3908119-20
Fax: 021 – 3150457 email: pgi@bit.net.id


KATA PENGANTAR

Salam Sejahtera dalam Kasih Yesus Kristus!
Gereja-gereja di seluruh dunia setiap minggu pertama bulan Oktober melakukan Perjamuan Kudus bersama-sama, untuk mengingatkan kembali tentang hakekat hidup beriman dalam Yesus Kristus. Ia telah mati disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita. Karena itu, kita harus mewartakan kepada orang lain, agar dunia percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat Dunia

Indonesia melaksanakan Hari Perjamuan Kudus se-Dunia bersamaan dengan Hari Pekabaran Injil  Indonesia. Tema HPII dan HPKD 2017 adalah ”Mewujudkan Keadilan Melalui Sikap Berbagi” (Ulangan 16:1-20)

Perayaan ibadah HPII dan HPKD 2017 ini memakai Tata Ibadah Perjamuan Kudus dari Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL), dengan alamat kantor Sinode Jalan Veteran No.83 Palopo 91923, Sulawesi Selatan. Kotak Pos :118.

Pada kebaktian HPII dan HPKD tahun ini, kami memohon dukungan doa dan kerjasama Gereja-gereja Anggota PGI untuk dapat ikut berperan dalam menunjang program Pekabaran Injil di Indonesia melalui Bidang Koinonia PGI. Jika gereja setempat tergerak untuk membantu kami dalam hal dana, dapat dilakukan dengan menjalankan pundi persembahan ekstra pada Kebaktian HPII dan HPKD 2017, dan diteruskan ke:

Rek. PGI, c.q Bidang Koinonia PGI:
1.   Atas nama PGI,                                  2.   Atas nama PGI
      No. 0230.01.000448.30.6                         No. 342.301.2001
      BRI Cab. Jakarta Cut Mutiah                   BCA Cabang Matraman
      Jl. Cut Mutiah No.12,                               Jl. Matraman Raya, 
      Jakarta Pusat.                                            Jakarta Pusat                

Atas segala bentuk dukungan dan kerjasama, kami ucapkan terima kasih. Selamat merayakan HPII dan HPKD 2017. Kiranya Yesus Kristus, Kepala Gereja, semakin memberkati pelayanan kita semua.

Jakarta, 4 September 2017
Teriring Salam dan Doa,


Pdt. Sri Yuliana, M.Th.
Sekretaris Eksekutif Bidang KPG PGI


PENJELASAN  PENGGUNAAN  TATA  IBADAH  HPII & HPKD
Minggu, 01 Oktober 2017

Nyanyian dalam tata ibadah ini dapat diganti (disesuaikan) dengan nyanyian jemaat setempat.
Penempatan Paduan Suara (Vokal Group) dan Warta Jemaat ditempatkan menurut  kebiasaan masing-masing jemaat.
Pada Pelayanan Perjamuan Kudus (pembagian roti dan anggur) dapat disesuaikan dengan kebiasaan gereja setempat. 
Tema Ibadah HPII dan HPKD tahun ini sekaligus tema khotbah, adalah “MEWUJUDKAN KEADILAN MELALUI SIKAP BERBAGI”. Berikut ini bahan pemikiran untuk Pelayan Firman:


TEMA:
“MEWUJUDKAN KEADILAN MELALUI SIKAP BERBAGI”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Bacaan yang diambil sebagai Tema HPII/HPKD 2017 ini adalah dari Ulangan 16:1-20. Nats: “Keadilan dan semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar” (ayat 20a). Nats ini juga merupakan ayat yang digunakan sebagai tema Pekan Doa Bagi Kesatuan Umat Kristiani yang diadakan setiap tahunnya oleh Dewan Gereja-gereja Sedunia dan Vatikan. Di mana pada tahun 2019 mendatang Pekan Doa Bagi Kesatuan Umat Kristiani akan mengangkat konteks gereja-gereja di Indonesia. 

Pergumulan yang dihadapi oleh Gereja-gereja di Indonesia saat ini, antara lain sangat erat hubungannya dengan persoalan: kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, radikalisme, intoleransi dan diskriminasi terhadap kelompokkelompok tertentu. Situasi ini disebabkan oleh banyak hal, tetapi terutama disebabkan oleh pemerintahan yang kurang bersih dan jujur. Mungkin sulit dipercaya – kalau tidak bisa dibilang mengejutkan – bahwa sekarang ini sulit sekali bagi kita menemukan aparat pemerintahan yang jujur, bersih serta idealis.  Dalam situasi seperti ini, banyak orang beranggapan dan percaya bahwa para pemimpin negeri ini bukanlah para pemimpin yang terbaik yang bisa kita harapkan berdasarkan catatan sejarah dan pengalaman di masa lalu.  Sejarah panjang kolonialisme serta pemerintahan “terpimpin” di masa lalu memberikan pengaruh yang dominan situasi saat ini. Ketika orang-orang diperhadapkan pada situasi untuk bisa mengatasi persoalan-persoalannya sendiri, maka mereka berpaling kepada lembaga-lembaga agama sebagai sebuah upaya bertahan hidup. Dari bidang pendidikan ke layanan kesehatan, dari kehidupan rumah tangga hingga persoalan-persoalan ekonomi, masyarakat masih bergantung pada kearifan lokal dan nilai-nilai yang dikembangkan melalui budaya yang seringkali dikoordinasikan oleh lembaga-lembaga agama. Oleh karena itu, agama memainkan peran yang penting di Indonesia baik sebagai sebuah sistem pendukung, sekalipun perlu diakui juga sebagai potensi perpecahan. Perbedaan yang ditimbulkan oleh agama, bertabrakan juga dengan sentimen etnis dan perbedaan strata sosial, yang dalam hal ini perbedaan kaya miskin serta perbedaan etnik kemudian berkembang  menjadi  menjadi sentimen agama.

Sebagai umat percaya kita perlu berdoa demi keadilan dan tanggung jawab untuk menjalankan keadilan. Sebagaimana tertulis dalam Ulangan 16: 1-20 dan disampaikan dengan tajam oleh penulisnya yang masih relevan untuk situasi dan kebutuhan yang kita hadapi saat ini. Perikop ini dipercaya sebagai bagian dari khotbah Musa yang terakhir kepada bangsa Israel untuk memperbarui kesetiaan dan komitmen meraka kepada Hukum Taurat yang telah diberikan kepada mereka. Disampaikan dalam konteks “memberi” dalam rangka Paska sebagai sebuah perayaan sukacita kepada semua orang tanpa memandang latar belakang mereka. “Haruslah engkau bersuka cita pada hari rayamu itu, engkau ini dan anakmu laki-laki serta anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu” *Ulangan 16:14]. Situasi ideal ini hanya akan terjadi apabila kesejahteraan dan keadilan sosial bagi semua orang terwujud yang dilambangkan dengan Paska. Secara khusus menurut Ulangan 16: 18-20, kewajiban ini diberikan kepada bangsa Israel bukan hanya menyangkut kehidupan keagamaan [religiositas], tetapi juga sebagai praktik kehidupan dalam struktur sosial yang adil dan jujur. Dalam kerangka umat dapat merasakan kebaikan TUHAN, keadilan harus ditegakan [Mazmur 85: 8-13]. Hakim harus dapat memberikan keputusan yang adil, tidak berpihak dan tidak menerima suap, seperti kata pepatah, “Suap membutakan mata orang bijaksana dan menumbangkan mereka yang benar”. Tidak ada damai tanpa keadilan.  

Kiranya melalui Ibadah dalam rangka memperingati Hari Pekabaran Injil di Indonesia dan Hari Perjamuan Kudus Sedunia (HPII/HPKD) semua umat Kristiani di Indonesia dan seluruh dunia hidup dalam damai dan menjadi bagian dari umat Tuhan yang menempatkan kita di tengah bangsa ini untuk mewujudkan keadilan. Gereja-gereja harus menyampaikan suara kenabiannya melalui pemberitaan Injil kepada para pemimpin umat, khususnya yang kini banyak terlibat dalam ketidakadilan dan tindak korupsi. Juga kepada warga masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan, supaya mereka dapat merasakan anugerah Allah sebagaimana kita merasakannya. Anugerah Allah kepada semua orang hanya dapat dirasakan secara adil jika kita mau mengembangkan sikap BERBAGI. Berbagi dalam dan melalui semua aspek kehidupan kepada sesama, tidak serakah dan berani berkata CUKUP, menyampaikan kesatuan kepada mereka yang mengasihi dunia ini dalam Kristus dan untuk mempersembahkan hidupnya sebagai penggenapan kehidupan seluruh ciptaan.  

Damai Allah beserta kita. Amin.









  TATA IBADAH 
HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA DAN 
HARI PERJAMUAN KUDUS se-DUNIA
(HPII DAN HPKD)
 1. NYANYIAN PENGANTAR  PKJ. 13 : 1 , 2           (Berdiri)
 
 
  2. VOTUM  DAN  SALAM        

     PF   : Pertolongan kepada kita datangnya dari Tuhan yang  menciptakan langit dan bumi dan yang tidak  meninggalkan ciptaan tangan-Nya.      
            Kasih Karunis dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai       saudara sekalian. Amin.

 3. MENYANYI  PKJ. 219 : 1 , 2         



                               
4. DOA PENGAKUAN DOSA DAN BERITA ANUGERAH ( Duduk )
   Marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan Allah kita dan               mengaku dosa kita kepada-Nya. Kita berdoa : ……………….   
     (Sesudah berdoa, baca   Yesaya 1 : 18; Kolose 1 : 13-14, )

5.  MENYANYI  KJ. 40 : 1 , 2




 6.  SEPULUH HUKUM  (Berdiri)
7.  MENYANYI  KJ. 280 : 1 – 3 




 8.  DOA PEMBACAAN ALKITAB                   (Duduk)
9.  PEMBACAAN  ALKITAB         
10. MENYANYI  KJ. 53 : 1 



11. KHOTBAH
12.   PERJAMUAN KUDUS
AKTA PERJAMUAN KUDUS
Saudara-saudara sidang jemaat yang dikasihi Tuhan.
 Dengarkanlah arti perjamuan kudus. Tuhan Yesus bersabda : “perbuatlah demikian menjadi peringatan akan Aku”. Tuhan Yesus Juruselamat kita yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama telah datang ke dunia ini sehingga mati di kayu salib mengganti kita. Ia telah menanggung sengsara, itulah sebabnya dengan berdukacita Ia berdoa kepada Bapa-Nya :    “Ya Bapaku jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26 :39) Ia harus minum habis isi cawan itu. Ia telah diikat supaya menguraikan kita. Ia dihukum mati supaya kita yang berdosa dibenarkan dihadapan Allah. Ia telah disalib, supaya dihapuskan surat dosa kita. Ia telah menanggung segala kutuk kita pada kayu salib, supaya Ia menganugerahi kita berkat-Nya. Ia telah menyaringkan suara-Nya, “ Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, supaya kita diterima oleh Allah dan sekali-kali tidak ditinggalkannya kita. Ia telah menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam kematian-Nya di kayu salib, waktu Ia bersabda: “Sudah genap”. Tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dengan nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2 : 11-19)
 Setiap kali kita makan roti dan minum anggur dalam Perjamuan Kudus, kita menerima itu selaku tanda dan materai dari pengasihan dan kesetian-Nya kepada kita. Demikianlah Perjamuan Kudus berarti bahwa Tuhan kita Yesus Kristus oleh kurban-Nya yang sempurna dan sekali saja bagi sekalian, telah membebaskan kita dari sumber segala kesusahan, yaitu dosa. Suatu Perjanjian Baru diadakan-Nya dengan kita dan Roh-Nya yang menghidupkan itu dikaruniakan-Nya kepada kita, supaya kita dapat hidup dengan Dia dalam suatu persekutuan yang benar. Demikian juga Ia mempersekutukan kita seorang dengan yang lain dalam kasih yang benar yang patut kita tunjukkan dalam perkataan dan perbuatan.
Saudara-saudara Jemaat, marilah kita berdoa :
 “Ya Allah, yang Mahamurah, Bapa kami dalam Yesus Kristus. Kami mohon kepada-Mu supaya dalam perjamuan kudus ini Engkau bekerja oleh Roh-Mu dalam hati kami, supaya dengan penuh kepercayaan yang dikaruniakan kepada kami, kami menyerahkan diri kepada anak-Mu Yesus Kristus. Kenyangkanlah   dan segarkanlah hati kami yang menanggung dosa dengan Roti Kehidupan, yaitu Yesus Kristus.  Kuatkanlah  kami, supaya kami tidak lagi hidup dalam dosa, melainkan Kristus hidup di dalam kami dan kami di dalam Dia. Berikanlah kami keteguhan iman bahwa Engkaulah Bapa yang Rahmani yang tidak berbuat kepada kami menurut dosa kami. Karuniakanlah kepada kami anugerah, supaya kami mendapat penghiburan  dalam memikul salib dan menyangkal diri, dalam mengaku penebus kami, dalam memandang kepada-Mu dalam suka maupun duka, dalam menanti Tuhan kami dari sorga yang akan menyambut kami untuk kehidupan yang kekal. Amin.

Marilah kita menyanyi dari KJ 368:1,3
(Sementara itu, pelayan turun dari mimbar untuk mempersiapkan meja perjamuan Kudus) 


 Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
 Roti dan anggur yang kita lihat ini hendaklah kita terima sebagai tanda dan materai dari pengorbanan dan persekutuan dengan Kristus. Supaya kita dipelihara dengan roti sorgawi, yakni Yesus Kristus. Janganlah hati kita melekat pada roti dan anggur yang kelihatan ini, melainkan dengan iman kita mengangkat hati kepada Yesus Kristus, Tuhan kita.

 JEMPUTAN
Saudara - saudaraku, marilah sebab meja Perjamuan Tuhan sudah sedia.
( Sementara memecahkan roti, pelayan mengucapkan ) :

“ Roti yang dipecah-pecahkan ini adalah tanda persekutuan kita dengan tubuh Kristus, Ambilah ….(setelah semua sudah mendapat roti, pelayan berkata: Makanlah, Tuhan Yesus bersabda : Inilah TubuhKu yang diserahkan karena kamu, perbuatlah demikian menjadi peringatan akan Aku).



 ( Sementara mengangkat cawan minuman, pelayan mengucapkan ) :
“ Cawan minuman yang atasnya kita mengucap syukur ini adalah tanda persekutuan kita dengan darah Kristus Tuhan kita, Ambilah…..(Setelah semua sudah mendapat anggur, pelayan berkata : Minumlah kamu sekalian dari cawan ini, Tuhan Yesus bersabda : Inilah darah-Ku, yaitu darah Perjanjian Baru yang ditumpahkan karena orang banyak, sebagai jalan keampunan dosa).

(Selesai minum, Pelayan membaca bagian dari Alkitab yang sesuai dengan
Perjamuan Kudus pada setiap meja atau menyanyi dari Mzm/Ny.Rohani/KJ/PKJ. Kemudian memberikan kesempatan peserta Perjamuan Kudus untuk berdoa masing-masing, dan kemudian mempersilahkan mereka kembali ke tempat semula. Setelah Pelayanan Perjamuan Selesai, Pelayan kembali ke mimbar).

13. UCAPAN SYUKUR
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
 Karena Tuhan sudah menguatkan dan menyegarkan jiwa kita, marilah kita sekarang memuji nama Tuhan dan mengucapkan syukur kepada-Nya serta masing-masing berkata dalam hati : “ Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku. Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. Dia yang menebus hidupmu dari lubang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat. Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan. Tuhan menjalankan keadilan dan hukum bagi semua orang yang diperas. Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabardan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut dan tidak untuk selamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa-dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia. Sejauh Timur dari Barat, demikian dijauhkan-Nya dari kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang  kepada anakanaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

14.  MENYANYI  KJ. 393  :  1 – 3( Persembahan )



 
15.  DOA  PERSEMBAHAN
         DAN  DOA  BAPA  KAMI


16.  MENYANYI  KJ.  314 ; 1 , 4 


17.  DOA  SYAFAAT 
18.  MENYANYI  PKJ.  183  :  1 , 2                  (Berdiri)


 
19.  PENGAKUAN  IMAN  RASULI        
20.  BERKAT

PF        Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau 
            Tuhan Menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau   kasih karunia;
            Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera

P+J  Amin.....amin.... amin....

Berlangganan

FeedLangganan Artikel by Email ?

» Cek Email Anda untuk konfirmasi berlangganan